Senin, 15 Februari 2016
Selasa, 26 Januari 2016
Sudah lumrah bagi
kita jika melihat ada orang yang begitu berambisi mengejar jabatan atau
kedudukan sehingga berbagai cara mereka tempuh untuk mewujudkan ambisinya itu.
Yang
nampak terlihat tidak saja ambisi untuk menjadi pemimpin kepala daerah tapi sampai
kepada kepala desa, malah sampai ke level terendah sekalipun seperti
ketua RT. Ini dapat kita lihat tidak saja pada sistem
pemerintahan akan tetapi juga pada sistem jabatan non pemerintah seperti
perusahaan swasta dan lain-lain.
Ambisi ini semua
berangkat dari niatan duniawi semata.
Dari Abu Sa'id Abdurrahman bin Samurah RA., ia berkata, “Rasulullah SAW. berkata
kepadaku, ‘wahai Abdurrahman bin
Samurah, janganlah engkau meminta jabatan
kepemimpinan, jika jabatan tersebut diberikan bukan
karena permintaanmu, engkau akan dibantu
dalam melaksanakannya. Namun jika engkau
diberikan karena memintanya, jabatan tersebut
sepenuhnya akan dibebankan kepadamu.” (HR Al-Bukhari)
Dari Abu Dzar RA., ia berkata, “Ya Rasulullah, tidakkah engkau mengangkat ku menjadi pegawai ?, lalu
beliau menghentakan kedua pundakku, kemudian berkata ‘wahai Abu Dzar ,sesungguhnya engkau itu lemah, sedangkan ini adalah amanah. sesungguhnya jabatan ini pada hari kiamat nanti akan
menghinakan dan menimbulkan penyesalan,
kecuali bagi orang yang mengambilnya sesuai dengan haknya dan melaksanakan
kewajiban atasnya". (HR Muslim).
Orang yang meminta
kependudukan jangan dipilih untuk mendudukinya,
jika tidak punya kompetensi untuk menjalaninya. Orang
yang paling berhak menduduki suatu jabatan adalah orang yang punya kemampuan, kemauan dan kemahiran untuk menjalaninya.
Sebuah kedudukan atau jabatan adalah sebuah
kepercayaan dan tanggung jawab yang besar,
sehingga siapa saja
yang diberikan amanah dan tanggung jawab harus menjalankan sebaik-baiknya dan tidak boleh
menghianati janjinya dihadapan Allah SWT.
Dari Abu Hurairah RA, Rasullullah SAW bersabda “sungguh kalian akan berambisi untuk meraih
kepemimpinan (kedudukan)
dan kelak akan menyesal di hari kiamat nanti". (HR Al-Bukhari).
Selasa, 05 Januari 2016
Kisah yang sangat menarik, yang patut untuk dibagikan kembali kepada sahabat sekalian.
Mari kita simak bersama sama.
Dikisahkan pada zaman dahulu kala ada seorang Ayah dan Anak melakukan perjalanan dengan Seekor Keledainya. Karena ukuran keledai mereka kecil apalagi bila dibandingkan dengan seekor kuda maka di awal perjalanan si anak yang menaiki keledainya, sedangkan ayahnya berjalan disampingnya sambil menuntun keledai itu.
Dikisahkan pada zaman dahulu kala ada seorang Ayah dan Anak melakukan perjalanan dengan Seekor Keledainya. Karena ukuran keledai mereka kecil apalagi bila dibandingkan dengan seekor kuda maka di awal perjalanan si anak yang menaiki keledainya, sedangkan ayahnya berjalan disampingnya sambil menuntun keledai itu.
Tanpa terasa sampailah mereka di sebuah pasar dan melewati kerumunan banyak orang yang sibuk dengan kegiatannya masing masing. Tapi diantara banyak orang tersebut ada salah satunya yang memperhatikan mereka, dan orang itu berkata "Lihat, lihatlah contoh anak yang durhaka, si ayah disuruhnya berjalan sementara ia asyik menaiki keledainya!" mendengar perkataan orang tersebut si anak tidak mau dianggap sebagai anak yang durhaka yang tidak berbakti kepada orangtua, maka si anakpun berkata, "Ayahku, lebih baik ayah saja yang duduk disini biarlah aku yang berjalan menggantikan ayah".
Setelah bertukar posisi akhirnya merekapun melanjutkan perjalanan. Selang beberapa waktu kemudian mereka kembali menjumpai sekumpulan ibu-ibu yang sedang mencuci di sungai yang menatap dengan pandangan penuh benci dan sinis. Akhirnya salah satu dari mereka berkata, "Lihatlah, Ayah yang kejam, dia tega menaiki keledainya sementara anaknya disuruh berjalan!". mendengar perkataan orang tersebut si ayah tidak mau dikatakan ayah yang kejam dan tega, yang tidak berperasaan. si ayah langsung turun dari punggung keledai tersebut dan berkatalah si Ayah kepada Anaknya, "Nak lebih baik kita tidak usah menaiki keledai ini mungkin kita tuntun saja".
Setelah melanjutkan perjalanan beberapa saat merekapun berpapasan dengan seorang pria. Pria itupun menatap dengan heran dan bertanya, "Apakah kalian menuntunnya dari rumah sampai tujuan? alangkah bodohnya kalian mengapa kalian tidak menaiki keledai ini, tampaknya ia cukup kuat". Si ayah dan anakpun terdiam karena perkataan pria itu memang benar dan memojokkan mereka berdua. Demi mendengar perkataan pria tersebut sang ayah memutuskan kepada anaknya, “Nak lebih baik kita naik bersama sama saja ya..”.
Merekapun menaiki keledai bersama sama. Kemudian merekapun melewati sebuah perkampungan, bertemulah mereka dengan sekumpulan orang yang sedang minum di sebuah kedai dipinggir jalan. Terdengar jelas suara orang yang minum di kedai tersebut membicarakan mereka, "Alangkah kejamnya mereka! keledai itu mereka naiki berdua!". Demi mendengar perkataan orang orang di kedai tersebut si ayah dengan ragu ragu berkata kepada anaknya ““Nak, bagaimana kalau kita angkat berdua saja keledai ini ya…”.
dengan susah payah merekapun mengangkat keledai sampai ketempat tujuan. Setibanya, salah seorang dari kerabat mereka berkata, "Apakah kalian mengangkatnya dari rumah sampai kesini?...sungguh gila kalian, mau-maunya kalian menyiksa diri mengangkatnya padahal keledai itu adalah hewan yang berfungsi dan digunakan untuk mengantarmu kemana pun.
Bagaimana? menarik bukan?. begitulah kisah tersebut berakhir. Dan apa yang terbesit dalam pikiran sahabat sekalian. Apakah sama apa yang kita pikirkan untuk menyikapi kejadian dalam kisah tersebut. Seandainya kita berada dalam kisah tersebut apa yang akan kita perbuat? Apakah sahabat sekalian akan sama dengan ayah dan anak tadi dalam mengambil tindakan dan keputusan? Ataukah sahabat sekalian akan memberikan warna kisah yang berbeda?. Kiranya cukup kita kembalikan kepada diri pribadi kita masing masing untuk menentukan mana yang baik dan mana yang harus di ambil tindakan atau keputusan.
Salam untuk sahabat sekalian yang sama sama sudah dewasa dalam bertindak, berucap dan berperilaku. Selama apa yang kita lakukan itu diiringi niat baik, keikhlasan dan tidak melanggar syari'at, maka omongan orang tentang apa yang kita perbuat tidak usah diambil hati dan tidak perlu khawatir. Bahkan jangan sampai omongan negatif orang pada kita mendorong kita menjadi malas melakukan pekerjaan, minder / rendah diri, tidak bersemangat lagi dan mendorong kita melakukan hal-hal yang tidak terpuji lainnya. jadikan semua itu sebagai batu ujian yang bisa kita jadikan pijakan untuk melangkah lebih jauh lagi. Kalaupun khawatir, khawatirlah jika yang kita lakukan itu jelek dimata Allah dan mengundang murka Allah.
Jumat, 18 Desember 2015
Secerdas apakah diri kita ?
Jawabannya mungkin terdapat pada rangking atau peringkat kelas seperti yang
tertera pada raport untuk anak sekolah. Atau nilai IPK untuk mahasiswa. Atau peringkat
juara pada setiap lomba.
Apa benar ?
Tapi setelah ujian nasional malah susah membuktikan kecerdasan kita. Tapi
setelah wisuda malah susah tes cari kerja atau tes cpns. Tapi setelah ikut
pertandingan lain malah susah menjadi juara.
Sekarang mari kita koreksi kecerdasan kita berdasarkan Teori kecerdasan majemuk
Gardner.
Menurut Teori kecerdasan majemuk Gardner ada delapan kecerdasan yaitu sebagai
berikut :
1. Kecerdasan
Linguistik
Kemampuan untuk menggunakan kata-kata baik secara lisan
maupun tertulis seperti yang dilakukan para presenter, orator, sastrawan,
jurnalis dan lain-lain.
2. Kecerdasan
matematis-logis
Kemampuan menggunakan angka dan penalaran secara logis
seperti yang dilakukan para akuntan, ahli matematika, ilmuwan, peneliti,
programer dan lain lain.
3. Kecerdasan
Spasial
Kemampuan membuat visualisasi secara akurat bentuk, bangun,
ruang dan warna. seperti para pematung, arsitek, pilot dan lain-lain.
4. Kecerdasan
Kinestetis
Kemahiran dalam menggunakan anggota tubuh seperti para
penari, atlet, aktor dan lain lain.
5. Kecerdasan
Musikal
Kemampuan yang berhubungan dengan bunyi nada atau suara
seperti para pemusik, penyanyi, pencipta lagu dan lain-lain.
6. Kecerdasan
Interpersonal
Kemampuan dalam berhubungan dengan orang lain seperti para
negosiator, politikus, diplomat, tenaga pemasaran dan lain lain.
7. Kecerdasan
Intrapersonal
Kemampuan untuk memahami diri sendiri sebagaimana para
konsultan, rohaniwan, psikologi, pendidik dan lain-lain.
8. Kecerdasan
Naturalis
Kemampuan yang berhubungan dengan alam seperti pencinta alam,
aktivis lingkungan, peneliti dan lain-lain.
Teori kecerdasan majemuk menyatakan
bahwa pada dasarnya setiap orang memiliki ke delapan kecerdasan tersebut akan
tetapi setiap orang akan berbeda-beda, diantara ke delapan kecerdasan tersebut
ada yang lebih dominan atau menonjol dibanding kecerdasan lainnya. jadi
seseorang seumpama tidak pandai matematika bukan berarti dia bodoh akan tetapi
kecerdasan matematisnya kurang dan kemungkinan dia mempunyai kecerdasan musikal
yang bisa dibanggakan atau kecerdasan lainnya.
Jadi silakan koreksi kecerdasan kita. Kecerdasan apa saja yang menonjol pada
diri kita dan kecerdasan apa saja yang masih kurang. Kalau kita ingin
mengembangkannya maka dengan cara belajar dan berlatih dengan rajin dan giat.
Seperti kata pepatah "rajin pangkal pandai" dan "bisa karena
terbiasa".
Selasa, 08 Desember 2015
Kali ini blogger minta ijin memberanikan diri mengangkat tema tentang fenomena dakwah..
Baru-baru ini sama sama kita lihat pada tayangan pemberitaan media televisi bermunculannya masalah masalah yang dihadapi para ustadz ustadz kondang televisi mengenai prahara rumah tangga maupun masalah sosial lainnya yang pada waktu sebelumnya juga banyak menimpa para ustadz kondang televisi.
Pemberitaan tersebut juga menjadi kondang karena hampir setiap waktu mengisi rubrik pemberitaan di media televisi.
Sungguh memprihatinkan memang menjabat sebagai status ustadz menjadi publik pigur dan juga secara umum di mata masyarakat membawa citra agama.
Baru-baru ini sama sama kita lihat pada tayangan pemberitaan media televisi bermunculannya masalah masalah yang dihadapi para ustadz ustadz kondang televisi mengenai prahara rumah tangga maupun masalah sosial lainnya yang pada waktu sebelumnya juga banyak menimpa para ustadz kondang televisi.
Pemberitaan tersebut juga menjadi kondang karena hampir setiap waktu mengisi rubrik pemberitaan di media televisi.
Sungguh memprihatinkan memang menjabat sebagai status ustadz menjadi publik pigur dan juga secara umum di mata masyarakat membawa citra agama.
Baiklah!.. mari kita kembali ke tema tentang fenomena dakwah itu sendiri.
Apa saja fenomena dakwah yang memprihatinkan tersebut?
Dakwah sebagai tontonan
Dakwah seharusnya sebagai tuntunan, dan bukan sebagai tontonan. Dai yang tampil menjadi tontonan memang akhirnya diminati, terutama oleh mereka yang hanya ingin mencari hiburan karena bisa ketawa ketiwi.
Dakwah berfungsi sebagai tuntunan. seorang dai harus menjadi suri teladan bagi obyek dakwahnya, memiliki akhlaqul karimah yang menghiasi hari harinya, sehingga antara ucapan dan perbuatannya seiring dan sejalan.
Ketika semangat dakwah sudah dimiliki bagi seorang dai untuk menuntun umat, maka sebelum dakwah itu disampaikan seorang dai sudah mengerjakan apa yang akan disampaikannya kepada orang lain.
Dakwah seharusnya sebagai tuntunan, dan bukan sebagai tontonan. Dai yang tampil menjadi tontonan memang akhirnya diminati, terutama oleh mereka yang hanya ingin mencari hiburan karena bisa ketawa ketiwi.
Dakwah berfungsi sebagai tuntunan. seorang dai harus menjadi suri teladan bagi obyek dakwahnya, memiliki akhlaqul karimah yang menghiasi hari harinya, sehingga antara ucapan dan perbuatannya seiring dan sejalan.
Ketika semangat dakwah sudah dimiliki bagi seorang dai untuk menuntun umat, maka sebelum dakwah itu disampaikan seorang dai sudah mengerjakan apa yang akan disampaikannya kepada orang lain.
Dakwah sebagai profesi
Dakwah adalah kewajiban, bukan profesi.
Jadi dakwah sifatnya harus berlangsung setiap saat, dimanapun dan kapanpun. Seorang dai berdakwah bukan hanya diatas podium, tapi dirumah, pasar, jalan, kantor, majelis, pokoknya dimana saja. Setidaknya dia berdakwah dengan perilakunya.
Akan tetapi jika dakwah sebagai profesi maka seorang dai berdakwah hanya pada waktu dan " jam kerja" dakwah yang di pesan. Setelah itu selesai dan tak lagi memiliki kewajiban apapun di luar itu.
Dakwah adalah kewajiban, bukan profesi.
Jadi dakwah sifatnya harus berlangsung setiap saat, dimanapun dan kapanpun. Seorang dai berdakwah bukan hanya diatas podium, tapi dirumah, pasar, jalan, kantor, majelis, pokoknya dimana saja. Setidaknya dia berdakwah dengan perilakunya.
Akan tetapi jika dakwah sebagai profesi maka seorang dai berdakwah hanya pada waktu dan " jam kerja" dakwah yang di pesan. Setelah itu selesai dan tak lagi memiliki kewajiban apapun di luar itu.
Dakwah untuk mencari keuntungan
Fenomena selanjutnya dakwah dijadikan bisnis untuk meraup keuntungan pribadi. Besarnya keuntungan dunia yang bisa didapatkan di zaman sekarang dengan jalan dakwah membuat pendakwah mengubah orientasi agung dakwah menjadi ajang mencari keuntungan seperti meminta tarif bayaran dakwah yang tinggi atau dengan modus pengobatan alternatif dengan biaya mahal.
Dakwah yang diperdagangkan tidak akan membekas dihati umat, tidak akan membawa keberkahan, tidak akan membawa perubahan.
Sangat berbeda jauh memang dengan dakwah yang dilakukan seorang dai di pelosok-pelosok desa. Mereka rela menempuh jarak yang jauh ke desa lainnya tanpa dijemput/ diganti biaya transport dan tanpa mengharap bayaran dakwah yang menguntungkan. Bahkan seorang dai rela menjadikan rumahnya yang kecil untuk menampung warga yang ingin belajar bahkan sekaligus memberi jamuan ala kadarnya kepada mereka tanpa ada unsur mencari keuntungan. Dakwah mereka dilandasi ke ikhlasan, bukan urusan untung rugi perniagaan atau bisnis.
Fenomena selanjutnya dakwah dijadikan bisnis untuk meraup keuntungan pribadi. Besarnya keuntungan dunia yang bisa didapatkan di zaman sekarang dengan jalan dakwah membuat pendakwah mengubah orientasi agung dakwah menjadi ajang mencari keuntungan seperti meminta tarif bayaran dakwah yang tinggi atau dengan modus pengobatan alternatif dengan biaya mahal.
Dakwah yang diperdagangkan tidak akan membekas dihati umat, tidak akan membawa keberkahan, tidak akan membawa perubahan.
Sangat berbeda jauh memang dengan dakwah yang dilakukan seorang dai di pelosok-pelosok desa. Mereka rela menempuh jarak yang jauh ke desa lainnya tanpa dijemput/ diganti biaya transport dan tanpa mengharap bayaran dakwah yang menguntungkan. Bahkan seorang dai rela menjadikan rumahnya yang kecil untuk menampung warga yang ingin belajar bahkan sekaligus memberi jamuan ala kadarnya kepada mereka tanpa ada unsur mencari keuntungan. Dakwah mereka dilandasi ke ikhlasan, bukan urusan untung rugi perniagaan atau bisnis.
Dakwah adalah kewajiban dan tuntunan yang penuh perjuangan dan pengorbanan, serta semata-mata hanya ingin mendapatkan keridhaan Allah SWT.
Sabda Nabi " Sampaikanlah dari KU (Rasullullah) walau hanya satu ayat" (HR. Bukhari).
Tetapi apa yang akan disampaikan harus benar-benar mengerti, memahaminya dan menguasainya serta mengamalkan dan mempraktikannya dalam sendi sendi kehidupan sehari hari. Jadi dakwah bukan sekehendak hati, yang penting orang senang, dan mendapatkan bayaran yang tinggi.
Sabda Nabi " Sampaikanlah dari KU (Rasullullah) walau hanya satu ayat" (HR. Bukhari).
Tetapi apa yang akan disampaikan harus benar-benar mengerti, memahaminya dan menguasainya serta mengamalkan dan mempraktikannya dalam sendi sendi kehidupan sehari hari. Jadi dakwah bukan sekehendak hati, yang penting orang senang, dan mendapatkan bayaran yang tinggi.
Senin, 07 Desember 2015
KENAPA DO’A YANG DIPANJATKAN TIDAK TERKABUL
Suatu
ketika Ibrahim bin Adham berjalan-jalan di kota Bashrah dari menyusuri lorong
yang sepi sampai melintasi kota yang ramai. Lalu Ibrahim bin Adham bertemu
dengan penduduk kota, karena sudah mengenal baik penduduk kota mengucapkan
salam dengan penuh hormat. Sebaliknya Ibrahim bin Adham lantas membalasnya
dengan penuh takzim.
Sesaat
kemudian Ibrahim bin Adham mau melanjutkan perjalanan, tapi penduduk kota itu
mencegah jalan Ibrahim bin Adham dan seketika melontarkan pertanyaan yang
selama ini membuat mereka dihinggapi rasa bingung, tidak habis mengerti
lantaran tak menemukan sebuah jawaban yang bisa menentramkan hati.
“Wahai
Ibrahim bin Adham mengapa do’a kami tidak dikabulkan lagi, bukankah Allah
berfirman “apabila hamba-hamba Ku bertanya
kepadamu tentang Aku maka (jawablah) bahwasanya Aku dekat, Aku mengabulkan
permohonan orang yang mendo’a apabila ia berdo’a kepada Ku.....” (QS. Al-Baqarah:
186).
“Wahai
penduduk kota Bashrah hal itu disebabkan hati kalian telah mati oleh 10 hal. Jika sudah demikian halnya bagaimana mungkin
Allah akan mengabulkan do’a kalian?” jawab Ibrahim bin Adham.
Penduduk
kota Bashrah hanya terdiam. Tak terbesit
dalam benak mereka jika Ibrahim bin Adham menjawab dengan jawaban yang masih
butuh penjelasan. Maklum penduduk kota Bashrah
tidak tahu 10 hal itu. Sejenak kemudian
penduduk kota Bashrah berpikir mencari tahu 10 hal yang dimaksud Ibrahim bin Adham
tersebut, tetapi setelah berpikir tak juga menemukan jawaban. Mereka pun pada
akhirnya tidak sungkan lagi untuk bertanya kepada Ibrahim bin Adham.
“Wahai
Ibrahim bin Adham kami tidak tahu apa 10 hal itu, apa sekiranya ke 10 hal yang
bisa menghalangi do’a kami tersebut?”.
Lalu
jawab Ibrahim bin Adham “10 hal yang menghambat do’a kalian itu antara lain :”
1. Kalian
telah mengenal Allah, tapi tidak menunaikan hak NYA.
2. Kalian
telah membaca Al-Quran, tetapi tidak mengamalkan isinya.
3. Kalian
mengaku cinta kepada Rasulullah SAW, tetapi meninggalkan sunnah-nya
4. Kalian
mengaku benci kepada setan, tetapi mematuhi ajakannya.
5. Kalian
mengaku ingin masuk surga, tetapi tidak memenuhi syarat-syarat-nya.
6. Kalian
ingin selamat dari api neraka, tetapi kalian justru menjerumuskan diri ke
dalamnya.
7. Kalian
meyakini kematian itu sesuatu yang pasti, tetapi kalian tidak pernah
mempersiapkan diri menghadapi nya.
8. Kalian
sibuk mengurusi keburukan orang, tetapi mengabaikan keburukan sendiri.
9. Setiap
waktu kalian mengubur orang mati, tetapi setiap kali itu pula kalian tak pernah
merenunginya.
10.
Kalian menikmati nikmat Allah, tetapi tidak
pernah pula mensyukurinya.
Penduduk
kota Bashrah pun terpaku diam. Akhirnya mereka
tahu kenapa do’a yang dipanjatkan bisa terhalang.
Kisah
diatas itu pun bisa menjawab pertanyaan kita semua ketika bertanya “kenapa bisa
do’a yang selama ini kita panjatkan tidak pernah mendapat jawaban?”.
Janji
Allah itu pasti, maka mustahil jika do’a kita tak terjawab kalau bukan karena
kita sendiri yang salah.
BAGAIMANA MENGELOLA RASA CEMBURU DENGAN PASANGAN
Mengelola Rasa Cemburu Dengan Garam
Rasa cemburu sulit dihindari, juga tidak mudah
dikelola. Namun kalau tak ada rasa cemburu
ibarat sayur tanpa garam (terasa hambar), dengan rasa cemburu bisa membuat
hubungan menjadi lebih mesra, mkarenakitkan gairah, merasa masing masing pihak ekstra istimewa.
Rasa cemburu yang terukur dan disampaikan dengan
cara cara tepat ibarat sayur pas garamnya akan
membuat pasangan anda merasa diperhatikan seperti ungkapan rasa cemburu dengan
sentuhan sentuhan yang memberi pesan bahwa
anda takut
kehilangan pasangan anda.
Tapi sebaliknya cemburu yang membabi buta ibarat sayur terlalu banyak
garam akan membuat pasangan anda merasa dicurigai, tidak dipercaya, dikekang,
dibatasi ruang geraknya dan anda terlalu
ingin mendominasi, yang semua itu merupakan bentuk cerminan hasrat
posesif.
Rasa cemburu bisa muncul karena Sikap dan perbuatan
pasangan dengan orang lain, sebagai contoh ketika
pasangan anda
berjalan, berboncengan berduaan dengan orang lain.
Bisa
juga karena pasangan tidak memperhatikan hak-hak pasanganya.
Seperti yang melanda banyak orang di era serba digital seperti sekarang ini,
yang memunculkan istilah, “yang jauh semakin dekat, yang dekat menjadi jauh.” Misal, istri yang lebih
mengutamakan sms, BBM pria lain daripada memanfaatkan waktu memperhatikan
suaminya. Atau suami yang lebih suka memilih membangunkan wanita lain untuk
tahajud dan sahur daripada memperhatikan istrinya, atau suami lebih memilih mengirim sms nasihat agama pada wanita yang bukan istrinya. Atau Seorang
isteri yang dilanda masalah bukan curhat kepada suami malah curhat lebih intens
kepada pria lain di media sosialnya. Apakah
ini merupakan cemburu
yang tepat para sahabat blogger?. Mari kita coba awali jawaban dari dalam lubuk hati kita masing-masing yang paling terdalam.
Jawabannya
mungkin Ya !, walaupun
mungkin bagi sebagian orang biasa, bukan masalah, tapi tidak bagi orang beriman. Karena
pasangan melakukan pelanggaran syariat, coba kita
lihat sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits berikut :
Sa’ad bin Ubadah RA berkata: “Seandainya aku melihat seorang pria bersama istriku,
niscaya aku akan menebas pria itu dengan pedang”. Nabi
saw bersabda: “Apakah kalian merasa
heran dengan cemburunya Sa`ad ?
Sungguh aku lebih cemburu dari pada Sa`ad dan Allah lebih cemburu daripadaku”. (HR Bukhari Muslim).
Barangsiapa mengabaikan sifat cemburu yang bisa
lebih menguatkan hubungan cinta di antara suami isteri, maka ia hidup dengan
hati yang rusak dan melenceng dari fitrahnya.
Sabda Nabi SAW : “ sesungguhnya Allah tidak melihat kepada ad-dayyut
pada hari kiamat, dan tidak akan memasukkannya kedalam surga” (HR Ahmad).
Apakah yang dinamakan Dayyuts itu..?.
Dayyuts adalah, seorang
suami yang tidak memiliki sifat cemburu dan membiarkan isterinya berbuat
maksiat.
Islam telah mengatur sedemikian rupa bagaimana interaksi antar lawan jenis, sekalipun di dunia maya. Islam melarang berdua-duaan karena yang ketiganya adalah setan. Islam pun mengajarkan interaksi pria wanita hanya dalam tiga hal, pengobatan, pendidikan dan jual beli. Itupun masih lebih afdhal dilakukan sesama jenis, kecuali sikon tak memungkinkan. Firman Allah SWT dalam QS An Nur: 30 untuk laki-laki dan QS An Nur : 31 untuk wanita, karena laki-laki memandang wanita harus menunduk, begitu juga sebaliknya. Jadi bukan berteman akrab. Berdosa laki-laki ngobrol sama perempuan, dan sebaliknya.
QS An Nur: 30 "Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, memelihara kemaluannya, yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui yang mereka perbuat"
QS An Nur:31 "Dan Katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra putra mereka, atau putra putra suami mereka, atau saudara saudara laki laki mereka, atau putra putra saudara laki laki mereka, atau putra putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama islama) mereka...."
QS An Nur:31 "Dan Katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra putra mereka, atau putra putra suami mereka, atau saudara saudara laki laki mereka, atau putra putra saudara laki laki mereka, atau putra putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama islama) mereka...."
Sikap yang wajar dalam cemburu akan membawa dampak positif,
terpeliharanya harga diri, kehormatan dan tercapainya kehidupan yang berbahagia.
Sikap pertengahan dalam menyikapi rasa cemburu, artinya ia menjauh dari
berprasangka buruk, tidak mencari-cari satu perkara secara mendetail bila tidak
perlu, menghindari sikap tergesa dalam menerima berita yang sengaja
dihembuskan oleh orang yang mempunyai niat buruk tanpa menyaringnya,
berhati-hati terhadap perkara yang dikhawatirkan membahayakan, dan menjaga diri
dari perilaku yang merusak. Jika hal itu dapat dipenuhi, maka itulah keutamaan
yang sebenarnya. Sebaliknya, apabila tidak, maka akan membawa malapetaka bagi
kehidupan rumah tangga. Firman Allah Subhanahu wa
Ta'ala, yang artinya: "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan
dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah
kalian mencari-cari kesalahan orang lain". (Al
Hujurat/49:12). Betapa berbahayanya bila
cemburu buta terjadi. Tak lagi si pencemburu buta takut pada Allah. Tak peduli
lagi ia pada dosa. Tak malu ia melakukan tindakan apa saja, sekalipun
menyebarkan aibnya sendiri. Hawa nafsu yang terus diperturutkan dapat melupakan
banyak hal, termasuk kehormatan diri dan keluarganya.
Sejatinya ada dua jenis cemburu, yaitu cemburu
yang Allah sukai dan yang tidak Allah sukai. Rasulullah bersabda: “Rasa cemburu
ada yang disukai Allah dan ada pula yang tidak disukai-Nya. Kecemburuan yang
disukai Allah adalah yang disertai alasan yang benar. Sedangkan yang dibenci
ialah yang tidak disertai alasan yang benar (cemburu buta).” (HR. Abu Daud).
Cemburu, sebuah rasa yang Allah hadirkan sebagai
suatu bentuk ujian pada manusia. Sama seperti cinta, sakit, dan
luka. Dan yang namanya perasaan pasti berada di bawah kendali manusia. Memilih
untuk diikuti, berarti cemburu yang menguasai kita, atau memilih untuk dikelola
yang berarti cemburu berada di bawah kekuasaan kita.
Jadi cemburu sesungguhnya adalah perasaan yang
dianugerahkan Allah. Wajar bahkan wajib dimiliki untuk alasan yang dibenarkan.
Ini berarti cemburu harus dikelola sedemikian rupa agar proporsional dan tidak
mengotori hati, apalagi mengarah pada pelanggaran syariat. Pada perilaku dosa
dan mendatangkan murka Allah.
Berikut ini ada beberapa tips
untuk mengelola rasa cemburu :
1. Jangan
langsung marah apabila mulai ada rasa curiga terhadap pasangan Anda. Terus
telusuri hingga mencapai titik temu yang dapat dibuktikan kebenarannya. Memilih sabar dalam
mengendalikan cemburu karena sesungguhnya sabar adalah
penolong dan memiliki pahala tanpa batas
2. Berterus
terang kepada pasangan bahwa Anda sedang dilanda api cemburu dan mintailah
penjelasan darinya. Jika Anda sudah mengenal pasangan Anda dengan sangat baik,
maka Anda dapat membedakan bagaimana saat ia berkata jujur dan bagaimana saat
ia sedang berbohong.
3. Dekati
atau bertemanlah dengan orang yang dicemburui. Meskipun ini merupakan hal yang
cukup berat, tapi setidaknya dengan jalan seperti ini Anda akan lebih mudah
mengetahui sebatas apa hubungan dia dengan pasangan Anda. Jika dalam batas yang
wajar seperti rekan kerja dan semacamnya janganlah menyimpan rasa cemburu
tersebut secara berkelanjutan.
4. Berusahalah
memberikan rasa saling percaya kepada pasangan Anda. Disinilah dibutuhkan
kedewasaan dalam diri masing-masing agar terjalinnya rasa kepercayaan satu sama
lain.
5. Berusaha
untuk setia. Sebagai orang yang pencemburu, tentunya Anda juga harus bisa
membatasi pergaulan dengan lawan jenis sebagaimana yang Anda harapkan dari
pasangan Anda agar bersifat adil dan tidak egois.
6. Mengalihkan
rasa cemburu dengan akal dan iman terhadap hal-hal yang lebih berguna seperti
menghadiri pengajian, menekuni hobi, dan
sejenisnya daripada memelihara dan menumpuk-numpuk rasa cemburu dalam hati.
Perbanyaklah berdzikir untuk menenangkan hati. Sibukkan diri dengan membaca
Al-Quran, dan kalimah dzikrullah.
7. Introspeksi
diri. Bisa jadi, pasangan Anda beralih pandangan karena ada suatu atau beberapa
hal dalam diri Anda yang tidak disukainya. Jika memang ada, ubahlah diri Anda
agar dia tetap melirik Anda sebagai satu-satunya cinta yang ada di dalam
hatinya.
Semoga kita bisa
menambahkan garam dalam sayuran sesuai dan tepat dengan selera bersama pasangan kita. Amin..
Saya mohon maaf jika ada kesalahan dalam
penulisan ini, saya akui itu adalah murni dari saya sebagai manusia biasa, namun
jika benar semuanya hanyalah datang dari ALLAh SWT.
Langganan:
Postingan (Atom)







