Selasa, 18 April 2017

KISAH SI ABU NAWAS DIUSIR DARI NEGERI

Alkisah, pada suatu malam dalam tidurnya Baginda Raja Harun Al Rasyd bermimpi bertemu seorang lelaki tua, dalam mimpinya laki-laki itu tua berpesan kepadanya jika negeri yang dipimpinnya akan ditimpa musibah. Oleh sebab itu, agar dapat menghindari bencaa itu ia harus mengusir seorang penduduk negerinya yang bernama Abu Nawas. Esoknya setelah ia terbangun baginda raja mulai gelisah hatinya mengingat mimpi yang dialami semalam, ia kemudian memerintahkan kepada pesuruhnya untuk menghadirkan Abu Nawas ke istana.
Tatkala Abu Nawas telah berada di istana, baginda kemudian berkata kepada Abu Nawas:
“Hai Abu Nawas, semalam aku bermimpi yang sangat aneh dan aku merasakan jika mimpi itu adalah suatu pertanda buruk bagi negeriku. Dalam mimpiku aku bertemu seorang laki-laki tua yang memakai pakaian serba putih. Ia mengatakan kepadaku jika negeri ini akan ditimpa bencana yang sangat besar . Agar itu tidak terjadi, ia berpesan agar aku mengusir seorang rakyatku dari negeri ini yang bernama Abu Nawas, dan ia juga mengatakan jika Abu Nawas itu ingin kembali maka hendaklah dia tidak berpijak di atas bumi atau mengendarai tunggangan apapun, tapi jika ia tidak bisa melakukan seperti itu maka ia tidak boleh lagi kembali ke negeri ini. Oleh sebab mimpi itu maka aku yakin ada sebuah kesialan atas dirimu. Maka aku memutuskan untuk mengusirmu dari negeri ini,” kata baginda.
Dengan perasaan yang berkecamuk setelah mendengarkan perintah baginda raja atas pengusiran dirinya, Abu Nawas kemudian meninggalkan istana dan kembali ke rumah. Ia menceritakan kepada istrinya tentang apa yang telah dititahkan raja kepadanya, Istrinya merasa sangat sedih. Abu Nawas kemudian pergi meninggalkan keluarganya dengan bekal yang dibawa seadanya. Ketika dalam perjalanan ia terus memohon kepada Tuhan agar diberi petunjuk, iapun terus memutar otaknya agar dapat keluar dari masalah itu.
Abu Nawas terus berjalan tanpa tujuan yang pasti hingga ia berada disebuah negeri. Selama beberapa hari disana ia terus berpikir bagaimana cara ia kembali ke Negeri Bagdad tanpa melanggar apa yang telah dipesankan raja kepadanya, yaitu tidak boleh menginjak bumi dan tidak pula mengendarai tunggangan apapun.
Bukan Abu Nawas namanya jika ia memiliki keputus asaan. Abu Nawas tidak berputus asa atas apa yang telah menimpanya. Meskipun alasan yang membuat ia diusir sama sekali tidak masuk akal, ia menerimanya dengan ikhlas, selalu berdoa kepada Allah dan berpikir untuk bisa keluar dari setiap masalah yang menimpanya.
Tibalah pada suatu hari ia merasa rindu berat kepada keluarganya di Negeri Bagdad. Namun ia belum menemukan cara untuk kembali, hingga pada suatu hari lain tiba-tiba dia menemukan sebuah cara yang sangat masuk akal dan tidak membuatnya melanggar perintah raja.  Setelah ia menemukan cara tersebut, Abu Nawas segera mempersiapkan segala sesuatu dan bersiap-siap untuk kembali ke kampung halamannya.
Kabar kembalinya Abu Nawas mulai tersebar dalam negeri hingga ke telinga baginda. rakyat menyambut gembira kepulangan Abu Nawas karena kecintaan akan dirinya,  Baginda raja juga ikut senang, tapi dalam suasana yang berbeda. Jika rakyat senang karena mereka menyukai Abu Nawas, baginda raja senang karena kali ini ia dapat leluasa memberi hukuman kepada Abu Nawas, baginda  berpikir pasti mustahil Abu Nawas dapat kembali tanpa berpijak pada bumi atau menunggangi sesuatu.
Tibalah Abu Nawas di istana dan menghadap baginda raja. Kehadirannya di istana membuat baginda raja sangat kaget ketika melihat Abu Nawas bergelantungan mengikat dirinya di bawah seekor keledai, dan kemudian Abu Nawas berkata kepada baginda raja,
“Wahai Baginda Raja bukankah engkau telah mengusirku dari negeri ini, dan melarangku kembali dengan berjalan memijak bumi dan tidak pula boleh menunggang apapun. Maka oleh sebab itu aku telah kembali dengan tidak memijak pada bumi dan tidak pula menunggung apapun, kecuali aku bergelantungan di bawah perut keledai.”
Melihat tingkah polah dan alasan yang diberikan Abu Nawas, Baginda raja pun merasa masuk akal dan sangat memuaskan beliau. Akhirnya Abu Nawas bisa kembali ke keluarganya dan terbebas dari hukuman baginda raja.

Jumat, 31 Maret 2017

UBINAN PADI LOKAL DI DESA TAMPARAK DALAM KEC. DUSUN UTARA KAB. BARITO SELATAN

Pada Rabu tanggal 29 Maret 2017 secara bersama sama melakukan ubinan padi lokal yang berada di desa Tamparak Dalam (sekitar 5 km masuk melalui jalan usaha tani dari Desa Tamparak layung).
Yang hadir pada kegiatan ubinan tersebut bapak Arthomi selaku kabid TPH; kasi perbenihan dan produksi; kasi pasca panen, pemasaran dan permodalan; perwakilan dari UPTD BPP Kec. Dusun Utara; petugas pengolah data Statistik pertanian, petugas pelaporan harga pasar dan PPL setempat dari Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan beserta Mantri Statistik Kecamatan dari BPS, dan H. Utuh selaku petani beserta beberapa petani disekitar lahan.
Padi lokal yang ditanam yaitu Padi gilai dan talun.  Dari hasil ubinan didapat rata rata 1,9 ton/ha gkp.

Mobil Avanza terhenti karena tidak bisa melewati akses jalan

Menunggu jemputan ke lokasi ubinan

Turun dari sarana jemputan (Daihatsu gran max)

menuju lokasi ubinan


Lahan Tanaman Padi Lokal

Menentukan titik sample ubinan


memanen sample ubinan

proses memisahkan bulir padi lokal

membersihkan padi lokal sample ubinan


menikmati singkong bakar




Kamis, 23 Maret 2017

Sekarang, Percaya Tidak Tuhan Itu Ada !




Disebuah sekolah dasar Seorang guru ragu akan adanya Tuhan, sambil mengajar Dia menyampaikan hasil logikanya (pendapatnya) tentang keberadaan Tuhan.
Guru : Anak-anak coba liat spidol ini (sambil dipegang) terlihat tidak ?...
Murid : terlihat !!!...
Guru : berarti spidol ini adakan?...
Murid : ada !!!...
Mendengar jawaban muridnya itu, gurunya sangat senang dan melanjutkan pertanyaan.
Guru : Anak-anak, Tuhan itu terlihat tidak ?...
Murid : tidak !!!...
Guru : berarti tuhan itu ada tidak ?...
Murid : tidak !!! (Dengan serempak Murid Murid menjawab, karena pertanyaannya diarahkan kearah demikian).
Diantara sekian Murid ada salah satu yang bernama utung sambil mengacungkan jari telunjuk dan langsung bertanya juga kepada teman temannya.
Utung : teman teman guru kita ada tidak ?...
Murid : ada !!!..
Utung : teman teman otak guru kita terlihat tidak ?...
Murid : tidak !!!...
Utung : berarti otak guru ada tidak ?...
Murid : tidak !!!...(dengan serempak Murid Murid menjawab, karena pertanyaannya sudah barang tentu mengarah ke demikian).

baca juga cerita seru yang lain : https://rabunborneo.blogspot.co.id/2015/11/cerita-perdebatan-ilmuwan-dan-ulama.htm

Cerita ini hanya bersifat fiktif belaka, jika terjadi kesamaan nama, tempat dan kejadian hanya bersifat kebetulan saja. Mimin tidak bertanggung jawab.

Senin, 09 Januari 2017

RAHASIA TAWAKAL DAN PEMBAGIAN REZEKI

Menurut Imam Al-Ghazali, tawakal itu digunakan dalam tiga tempat :
1.     Tawakal kepada keputusan Allah. 
Maksudnya, engkau harus memiliki keyakinan penuh dan merasa puas dengan keputusan apa pun dari Allah. Hukum Allah tak akan berubah, seperti yang tercantum dalam Al-Quran dan hadis.
2.     Tawakal kepada pertolongan Allah. 
Engkau harus bersandar dan percaya penuh pada pertolongan Allah Azza wa Jalla. Jika engkau menyandarkan diri pada pertolongan Allah dalam dakwah dan perjuangan bagi agama Allah, maka Allah pasti akan menolongmu.
3.     Tawakal berkaitan dengan pembagian rezeki yang diberikan oleh Allah. 
Engkau harus yakin bahwa Allah Azza wa Jalla akan mencukup nafkah dan keperluan kita sehari-hari.

Rasulullah SAW bersabda, “JIka kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal kepada-Nya, niscaya Dia akan memberimu rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung itu keluar dari sarangnya di pagi hari dalam keadaan perut yang kosong dan pulang di sore hari dalam keadaan perut terisi penuh.” (HR Imam Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasa-i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim)
Allah SWT berfirman, “Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.” (QS Ath-Thalaq: 3)

Imam Al-Ghazali mengatakan, “Rezeki itu ada empat macam, yakni …”:
1.     Rezeki yang dijamin.
Rezeki yang dijamin merujuk kepada makanan dan segala apa yang menopang tubuh dan jiwamu. Jenis rezeki seperti itu tak terkait dengan sumber-sumber lainnya di dunia. Jaminan terhadap rezeki jenis ini datang dari Allah Ta’ala. Maka, bertawakal terhadap rezeki jenis ini wajib berdasarkan dalil aqli dan syar’i. Sebab, Allah telah membebankan kita untuk mengabdi kepada-Nya dan mentaati-Nya dengan tubuh kita. Dia pasti telah menjamin apa-apa yang menjadi sumber energi bagi sel-sel tubuh kita agar kita dapat melaksanakan apa yang telah diperintahkan-Nya.
2.     Rezeki yang dibagikan.
Rezeki yang dibagi adalah apa yang telah dibagikan oleh Allah dan telah tertulis di Lauwhun Mahfuzh secara detail. Masing-masing dibagikan sesuai dengan kadar yang telah ditentukan dan waktu yang telah ditetapkan, tidak lebih dan tidak kurang, tidak maju dan tidak mundur dari apa yang tertulis itu.
Rasulullah SAW bersabda, “Rezeki itu telah dibagikan dan kemudian telah diberikan semuanya. Tidaklah ketakwaan seseorang dapat menambahkannya dan tidak pula kejahatan orang yang berlaku jahat dapat menguranginya.” 
3.     Rezeki yang dimiliki.
Rezeki yang dimiliki adalah harta benda dunia yang dimiliki oleh manusia sesuai dengan apa yang telah ditakdirkan oleh Allah untuk dia miliki. Dan ini termasuk rezeki dari Allah. Allah berfirman, “Belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu.” (QS Al-Baqarah [2]: 254).
4.     dan rezeki yang dijanjikan oleh Allah SWT.
Adapun rezeki yang dijanjikan adalah segala apa yang telah dijanjikan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa dengan syarat ketakwaan, sebagai rezeki yang halal, tanpa didahului oleh usaha yang bersusah payah. Sebagaimana firman Allah SWT, “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan bagianya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.” (QS Ath-Thalaq : 2-3)

Inilah beberapa jenis rezeki dari Allah, dan wajib bagi kita untuk bersikap tawakal dengan rezeki yang dijamin oleh-Nya. Maka, perhatikan hal ini dengan seksama.”

--Dikutip dari Kitab Minhajul ‘Abidin karya Imam Al-Ghazali--

Jumat, 06 Januari 2017

Cerita Nasib Tikus Rumah yang Selamat dari Perangkap Tikus

setelah berbelanja sepasang petani (suami dan istri) pulang kerumah.
Ketika mereka membuka barang belanjaan, seekor tikur sedang memperhatikannya dengan seksama sambil menggumam: "hmmm... makanan apa lagi yang dibawa mereka dari pasar ??"
Ternyata, salah satu yang dibeli oleh petani ini adalah Perangkap Tikus.
Sang tikus kaget bukan kepalang. Ia segera berlari menuju kandang ayam dan berteriak: "Ada Perangkap Tikus....!! Ada Perangkap Tikus di rumah ....!! sekarang ada perangkap tikus....!!"
Sang Ayam berkata: "Tuan Tikus... Aku turut bersedih, tapi itu tidak berpengaruh terhadap diriku"
Sang Tikus lalu pergi menemui seekor Kambing sambil berteriak... " Ada Perangkap Tikus di rumah ....!! sekarang ada perangkap tikus....!!"
Sang Kambing pun berkata: "Aku turut bersimpati... tapi tidak ada yang bisa aku lakukan"
Tikus lalu menemui Sapi. Ia mendapat jawaban sama. "Maafkan aku. Tapi perangkap tikus tidak berbahaya buat aku sama sekali"
Ia lalu lari ke hutan dan bertemu Ular. Sang ular berkata: "Ahhh... Perangkap Tikus yang kecil tidak akan mencelakai aku"
Akhirnya Sang Tikus kembali kerumah dengan pasrah mengetahui kalau ia akan menghadapi bahaya sendiri.
Suatu malam, pemilik rumah terbangun mendengar suara keras perangkap tikusnya yang dia pasang berbunyi menandakan telah memakan korban. Ketika melihat perangkap tikusnya, ternyata seekor ular berbisa. Buntut ular yang terperangkap membuat ular semakin ganas dan menyerang istri pemilik rumah. Walaupun sang Suami sempat membunuh ular berbisa tersebut, sang istri tetap terkena gigitan ular.
Sang suami harus membawa istrinya ke rumah sakit dan kemudian istrinya sudah boleh pulang namun beberapa hari kemudian istrinya tetap demam.
Ia lalu minta dibuatkan sop ceker ayam oleh suaminya, (karena, sop ceker ayam sangat bermanfaat buat mengurangi demam). Suaminya dengan segera menyembelih ayamnya untuk dimasak cekernya.
Beberapa hari kemudian sakitnya tidak kunjung reda. Seorang teman menyarankan untuk makan hati kambing. Ia lalu menyembelih kambingnya untuk mengambil hatinya.
Masih, istrinya tidak sembuh-sembuh dan akhirnya meninggal dunia.
Banyak sekali orang datang pada saat pemakaman. Sehingga sang Petani harus menyembelih sapinya untuk memberi makan orang-orang yang melayat.
Dari kejauhan... Sang Tikus menatap dengan penuh kesedihan. Beberapa hari kemudian ia melihat Perangkap Tikus tersebut sudah tidak digunakan lagi.

Suatu hari,,, ketika anda mendengar seseorang dalam kesulitan dan mengadu kepada anda,, tapi anda mengira bahwa itu bukan urusan anda,, pikirkanlah sekali lagi.
*******